Jumat, 20 Juni 2014

Teknologi Aquaponik



I. PENDAHULUAN



A.  Latar Belakang
            Akuaponik (aquaponic) merupakan salah satu teknologi budidaya yang mengkombinasikan pemeliharaan ikan dengan tanaman (Nelson, 1998). Teknologi ini merupakan teknologi terapan hemat lahan dan air dalam budidaya ikan sehingga dapat dijadikan sebagai suatu model perikanan perkotaan dan pertamanan di kompleks perumahan. Penerapan sistem akuaponik
pada budidaya ikan nila di lokasi-lokasi berbeda diduga memiliki keanekaragaman hayati biota air non ikan yang berbeda. Plankton dan makrobentos merupakan bagian penting dari rantai makanan (food chain) dalam lingkungan budidaya ikan dan memiliki peranan penting pada kualitas air suatu perairan, apabila perairan tersebut cukup unsur hara untuk pertumbuhan plankton dan terdapat banyak jenis benthos hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas air di perairan tersebut bagus (Macan, 1960).
Sejauh ini sistem budidaya akuaponik masih sebatas kajian riset yang terus dikembangkan dan disempurnakan, sehingga perlu diuji penerapannya diberbagai lokasi yang berbeda seperti dataran tinggi, sedang dan rendah dengan jenis komoditas yang berbeda pula (Macan, 1960).
Sistem akuaponik kualitas air, jenis dan komposisi biota air seperti ikan merupakan suatu rangkaian yang akan meningkatkan produktivitas dari ikan. Dengan mengetahui komposisi jenis dan kelimpahan plankton dan makrobentos pada kolam ikan patin dalam penerapan sistim akuaponik akan diketahui kondisi ekologis kolam dan keseimbangannya guna pengelolaan lingkungan budidaya (Wheatherley, 1972).
Macan (1960) menambahkan salah satu cara untuk manajemen kualitas air yang baik untuk ikan patin dapat menggunakan sistem teknologi akuaponik yang mengkombinasikan ikan dan tumbuhan air seperti kangkung, sisa buangan ikan seperti feses dan urin akan diserap oleh tumbuhan air untuk dimanfaatkan.

B.  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui cara pembuatan teknologi akuaponik.
2.      Untuk mengetahui kualitas air ikan patin dengan teknologi akuaponik.
3.      Untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin (Pangasius pangasius).

 



 II. TINJAUAN PUSTAKA



A.    Sistematika dan  Morfologi Ikan Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Menurut Lingga et al. ( 2000), sistematika ikan patin adalah sebagai berikut :
kingdom          : Animalia
filum                 : Chordata
kelas                 : Pisces
ordo                  : Ostariophysi
famili                : Pangasidae
genus                : Pangasius
spesies              : Pangasius pangasius
   Ikan patin merupakan salah satu golongan ikan catfish yang banyak terdapat di negara Asia. Di Indonesia ikan ini dikenal dengan sebutan ikan patin. Ikan patin yang ada di Indonesia memiliki bentuk badan yang sedikit memipih, kulit tidak bersisik, mulut subterminal dengan dua pasang sungut peraba (barbels). Memiliki patil pada sirip punggung dan sirip dada, sirip analnya panjang dimulai dari belakang anal sampai pangkal sirip ekor. Ikan patin memiliki beberapa sifat biologis diantaranya nokturnal atau melakukan aktifitas pada malam hari. Seperti halnya ikan catfish yang lainnya ikan patin adalah golongan ikan omnivora  (Susanto dan Amri, 2002).

B.  Kualitas Air
Kualitas air didefinisikan sebagai salah satu faktor parameter kelayakan suatu media perairan untuk menunjang kehidupan dan kelangsungan pertumbuhan organisme akuatik yang nilai kualitas airnya dibatasi dalam kisaran tertentu sesuai kebutuhan organisme tersebut.


1.    Parameter Fisika

a.    Suhu
Parameter fisika merupakan salah satu parameter yang sangat penting, karena dari parameter fisika akan berdampak terhadap parameter lainnya, seperti parameter fisika, kimia dan parameter biologi. Salah satu parameter fisika adalah suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan khususnya ikan. Suhu optimal untuk hidup ikan patin pada kisaran 28-29 oC (Boyd, 2000).

2.    Parameter Kimia

a.    pH
Parameter kualitas air ditinjau dari nilai pH merupakan indikator tingkat keasaman perairan akibat konsentrasi ion H+ atau ion OH- yang berlebih atau dalam kondisi netral. Beberapa faktor yang memengaruhi pH di perairan di antaranya aktivitas fotosintesis dan suhu. Setiap jenis ikan memiliki toleransi terhadap pH yang berbeda-beda, perbedaan yang jelas terdapat pada ikan-ikan yang memiliki alat bantu pernapasan seperti labirin. Nilai pH yang ditoleransi ikan patin berkisar antara 7,2-7,5
 (Boyd, 2000).

b.   Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut diperairan memiliki peranan sangat penting, misalnya dibutuhkan oleh bakteri untuk proses dekomposi bahan organik dan diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan, aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi ikan. Sumber oksigen perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer kurang lebih sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Keberadaan oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh parameter kualitas lainya, misalnya kondisi suhu dan nilai pH. Kadar oksigen terlarut di perairan atau di kolam yang optimal bagi pertumbuhan ikan patin yaitu >5 ppm (Kusdiarti, 2006).

c.    CO2
Karbon dioksida yang terlarut di perairan merupakan salah satu racun bagi organisme di perairan. Keberadaan karbondioksida yang berlebih dapat menghambat pertumbuhan ikan dan apa bila keberadaan karbon dioksida di perairan tidak mampu ditolerir lagi oleh ikan dapat menyebabkan kematian pada ikan. Sumber karbondioksida bisa akibat difusi dari atmosfer bisa juga hasil dari dekomposi bahan organik oleh bakteri anaerob. Keadaan konsentrasi CO2 yang masih dapat ditolerir oleh ikan patin antara 15-30 ppm (Boyd, 2000)

d.   Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Alkalinitas mampu menetralisir keasaman di dalam air, secara khusus alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pembufferan dari ion bikarbonat, dan tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Dalam budidaya ikan, alkalinitas menyediakan kapasitas penyangga (buffer) yang dibutuhkan untuk melindungi ikan yang dibudidayakan secara intensif untuk melawan goyangan lebar pH air yang akan terjadi dikarenakan CO2 hasil respirasi dari ikan dan tanaman akuatik. Untuk budidaya ikan patin, alkalinitas 100-150 mg/L direkomendasikan untuk menyediakan kapasitas menyangga yang diperlukan untuk mencegah fluktuasi pH, mendukung produksi algae, mencegah pelepasan logam berat, dan untuk memungkinkan penggunaan senyawa tembaga untuk treatment penyakit (Darusalam, 2005).

e.    Amonia
Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari organisme akuatik. Sumber utama amonia (NH3) adalah bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik, terutama yang banyak mengandung protein, menghasilkan ammonium (NH4+) dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka dapat terjadi penumpukan NH3 sampai pada konsentrasi yang membahayakan atau tidak dapat ditolerir bagi ikan dapat mengakibatkan kematian ikan. Kandungan amonia yang dapat ditolerir bagi ikan patin yaitu pada kisaran 0,1-0,3 ppm (Darusalam, 2005).

C.  Manajemen Kualitas Air (Akuaponik)
Penerapan teknologi akuaponik sangat beragam bentuk dan ukuran medianya, salah satu yang penting yaitu bentuk atau struktur setiap bagian dari sitem teknologi akuaponik. Bentuk dari teknologi akuoponik akan menentukan tingkat kemudahan dalam manajemen kualitas air dan kuantitas air. Bagian terpenting dari manajemen kualitas air dalam teknologi akaponik adalah bagaimana cara membuat masa air sehomogen mungkin, yang nantinya pengadukannya akan dibantu oleh teknologi pompa, jadi dengan adanya konstruksi sebagaimanapun bentuknya asalkan tidak porus maka kualitas air bisa distabilkan (Fadhil, 2011).
Manajemen kualitas air dalam teknologi akuaponik sangat berhubungan erat dengan kontruksi media dalam penerapan teknologi akuaponik, seperti misalnya peletakan tumbuhan air, tingkat porus media akuarium atau kolam serta posisi alat pemompa air dan yang tak kalah penting adalah posisi zona dead zone. Zona dead zone adalah terjadinya titik daerah mati di dalam perairan, dimana terjadi penumpukan bahan organik atau sampah yang terkumpul pada area-area tertentu di akuarium atau kolam. Daerah ini kadar amonia dan gas-gas beracun cenderung tinggi sehingga tidak disukai oleh ikan. Apabila ada pakan ikan yang jatuh pada titik-titik ini maka ikan tidak akan mau makan, atau daerah ini tempat menjadi sarangnya beberapa bakteri patogen yang menyebabkan sakit pada ikan ( US EPA, 1976)
Penggunaan tanaman dan media tempat tumbuhnya tanaman tersebut harus tepat guna sesuai dengan tujuan teknologi akuaponik, misalnya struktur akar yang baik untuk proses jerapan nitrogen oleh tanaman hasil dari limbah kotoran ikan, serta ukuran dan tingkat pertumbuhan daun terhadap ukuran teknologi akuaponik jangan melebihi karena pada malam hari akan merugikan, terjadinya kompetisi oksigen antara ikan dengan tanaman (Taufik, 2010).
           
D.  Pertumbuhan
            Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam kurun waktu tertentu, melalui proses biologis yang komplek dimana banyak faktor mempengaruhinya. Pertumbuhan ikan patin dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan penyakit (Singarimbun dan Effendi, 1987).
Ikan patin termasuk jenis ikan yang pertumbuhannya sangat cepat. Salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu pakan yang dikonsumsi seperti pakan yang mengandung protein yang tinggi, protein merupakan nutrien yang paling penting bagi pertumbuhan ikan patin karena protein yang kisarannya 65-75% dan berfungsi sebagai bahan pembentuk jaringan tubuh dalam proses pertumbuhan ikan patin. Pakan   sangat   mempengaruhi   pertumbuhan   ikan   patin (Soeseno, 1993). 

E.  Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup atau sering disebut dengan istilah Survival Rate (SR) adalah jumlah ikan yang hidup hingga akhir pemeliharaan. Untuk mengetahuinya digunakan rumus sederhana, yaitu jumlah ikan yang ditebar dikurangi dengan jumlah ikan yang hidup kali seratus persen. Kelangsungan hidup ikan patin khusunya pada budidaya yang diterapkan teknologi akuaponik dengan perlakuan tipe permukaan medianya menyatakan bahwa pada dataran tinggi kelangsungan hidup dapat mencapai 70,11%, pada dataran sedang sebesar 74,80 % dan pada dataran rendah tingkat kelangsungan hidup mencapai kurang lebih 71,21% (Soeseno, 1993).
Kelangsungan hidup ikan patin dalam teknologi akaponik sangat ditentukan oleh kualitas air, dinyatakan bahwa rendahnya tingkat pertumbuhan mutlak ikan patin pada nilai padat tebar yang relatif tinggi akan mengakibatnya rendahnya standar mutu kualitas air. Selain itu ketepatan pemberian pakan juga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup karena metode pemberian pakan akan berdampak pada tingkat pertumbuhan ikan patin dan konsentrasi limbah pakan yang dapat mengakibatkan kematian saat bersifat racun saat berada dalam perairan. Tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi menggambarkan kondisi pemeliharaan dan kondisi fisiologi ikan patin yang baik, serta kualitas air yang mendukung pertumbuhan ikan patin (Singarimbun dan Effendi, 1987).













 III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A.  Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Kualitas Air ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2013 di Laboratorium Dasar Bersama Perikanan, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Indralaya.

B. Alat dan Bahan
1.    Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 1 yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum
No.
Alat
Spesifikasi
Kegunaan
1.
Akuarium 60 cm x 40 cm x 50 cm
1 buah
Tempat ikan
2.
3.
4.
5.
6
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Wadah tanaman
Pompa
Pipa
Dop
Batu kerikil
Arang
Spuit suntik
pH meter
Do meter
Spektofotometer
Termometer
Erlenmeyer
Beker glass
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
Secukupnya
Secukupnya
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah
Tempat kangkung
Memompa air
Aliran air
Penyambung pipa
Media filtrasi
Media filtrasi
Untuk titrasi
Untuk mengukur pH air
Untuk mengukur oksigen terlarut
Untuk mengukur amonia
Untuk mengukur suhu
Untuk mengambil sampel
Untuk mengambil sampel


2.      Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 2 yaitu sebagai berikut :
Tabel 2. Bahan yang digunakan saat praktikum
No.
Nama Bahan
Jumlah
Fungsi
1.
2.
3.
4.
Ikan Patin
Pelet
Air
Kangkung
15 ekor
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Objek pemeliharaan
Pakan ikan
Media budidaya
Media filter

C. Cara Kerja
            Adapun cara kerja dari praktikum pemeliharaan ikan dengan teknologi akuaponik adalah sebagai berikut:
1.    Persiapan wadah
Praktikum pemeliharaan ikan dengan teknologi akuaponik ini dimulai dengan cara kerja persiapan akuarium berukuran 60x40x50 cm dan pemasangan kotak filtrasi sekaligus sebagai tempat tanaman kangkung tumbuh. Setelah akuarium dan kotak filtrasi siap, sarana dan prasarana seperti batu kerikil pompa air dan pipa-pipa untuk resirkulasi air, tanaman kangkung disusun sesuai dengan bentuk akuarium. Kemudian media diuji coba 1 hari untuk memastikan semua fungsi berjalan dengan baik, baru dilakukan penebaran ikan nila yang sebelumnya telah diukur panjang dan berat ikan.

2.    Pemeliharaan ikan
Pemeliharaan ikan patin dalam media dengan menggunakan teknologi akuaponik kurang lebih dilakukan selama 1 bulan. Selama pemeliharaan ikan dikontrol terus menerus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.


3.    Pemberian pakan
Selama waktu pemeliharaan pemberian pakan ikan dilakukan dengan metode at station  dengan periode waktu pemberian pakan dilakukan pagi hari pukul 09.00, siang hari pukul 13.00 dan sore pukul 16.00. Tujuan dilakukannya pemberian pakan secara at station untuk mempertahankan kualitas air dari sisa pakan ikan.

4.    Parameter yang diamati
a.    Parameter Fisika
            Parameter fisika yang diamati adalah suhu. Suhu diukur dengan menggunakan termometer, sebelum melakukan pengukuran suhu, termometer terlebih dahulu dikalibrasi dengan akuades.

b.    Parameter Kimia
            Parameter kimia yang diamati adalah  pH, DO, CO2, alkalinitas dan amonia. DO diukur dengan menggunakan DO meter. Dalam pengukuran DO dan pH, alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan akuades. Pengukuran CO2 dengan cara mengambil air sampel 25 ml, masukkan kedalam Erlenmeyer. Tambahkan 3-4 tetes indikator PP, jika berwarna pink berarti tidak ada CO2, jika berwarna pink berarti ada CO2. Kemudian air dititrasi dengan larutan NaOH 0,227. Pengukuran alkalinitas dengan cara mengambil air sampel dengan Erlenmeyer. Tambahkan 2 tetes indikator PP dan indikator MO sebanyak 3-4 tetes, lalu titrasi dengan H2SO4 0,02 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah kebiruan.
c.    Pertumbuhan
            Pertumbuhan ikan yang diamati adalah pertumbuhan panjang dan berat ikan patin yang telah dipelihara.
d.   Kelangsungan hidup
            Tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) ikan patin dihitung berdasarkan seberapa banyak ikan yang hidup kemudian dihitung dengan menggunakan rumus :


















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



Adapun data-data hasil pengamatan selama pemeliharaan adalah sebagai berikut:

A.  Kualitas Air
Gambar 1. Grafik fluktuasi suhu

Hasil parameter suhu teknologi akuaponik skala akuarium kelompok tiga tidak menunjukkan kondisi suhu yang ekstrim karena kisaran suhu tersebut adalah
27-29
oC percobaan sistem teknologi akuaponik ini dilakukan di dalam  ruangan sehingga suhunya lebih stabil. Menurut Boyd (2000), suhu yang baik untuk pemeliharaan ikan patin adalah 28-29oC, jadi teknologi akuaponik tersebut baik untuk pemeliharaan ikan patin terutama pada parameter suhu (Taufik, 2010).

Gambar 2. Grafik fluktuasi pH
Hasil pengukuran pH  kelompok tiga berkisar 7- 7,4. Hasil pengukuran pH ini dapat menunjukkan bahwa kualitas air pada teknologi akuaponik skala akuarium ini memiliki pH yang netral setiap minggunya, hal ini menunjukkan bahwa dengan akuaponik parameter kualitas air seimbang sesuai dengan parameter hidup ikan terutama ikan patin. Menurut Boyd (2000), nilai pH yang ditoleransi ikan patin berkisar antara 7,2-7,5.
Gambar 3. Grafik fluktuasi DO
Adapun hasil pengukuran DO air saat pemeliharaan berkisar 3,72-4,65 mg/L. Hal ini menunjukkan teknologi akuaponik tersebut baik untuk pemeliharaan dan budidaya ikan patin. Menurut Kusdiarti (2006),  kisaran DO untuk ikan patin adalah  >5 mg/L.

Gambar 4. Grafik fluktuasi Alkalinitas
Alkalinitas menggambarkan jumlah basa (alkaline) yang terkandung dalam air.  untuk budidaya ikan patin direkomendasikan untuk menyediakan kapasitas menyangga yang diperlukan untuk mencegah fluktuasi pH, mendukung produksi algae, mencegah pelepasan logam berat, dan untuk memungkinkan penggunaan senyawa tembaga untuk treatment penyakit serta mempertahankan kepekaan membran sel dalam jaringan saraf dan otot. Dari hasil praktikum ini mengalami kenaikkan alkalinitas, hal ini disebabkan karena sistem akuaponik dapat meningkatkan dan menjaga kestabilan air. Menurut Wedemeyer (1996), nilai alkalinitas untuk ikan patin yang dibudidaya secara intensif berkisar 100-150 ppm.

Gambar 5. Grafik fluktuasi Amonia
Hasil parameter amonia teknologi akuaponik skala akuarium kelompok tiga menunjukkan kondisi kualitas air yang baik karena kandungan amonia dalam percobaan teknologi akuaponik ini mengalami penurunan kadar amonia yaitu dari 0,03 menjadi 0,02 ppm, Menurut Darusalam (2005) kandungan amonia yang dapat ditolerir bagi ikan patin yaitu pada kisaran 0,1-0,3 ppm, sisa buangan ikan seperti feses dan urin (amonia) akan diserap oleh tumbuhan air untuk dimanfaatkan dalam proses pembuatan makanan tumbuhan itu sendiri. Hal ini juga ditunjang oleh (Tyson, 2007) bahwa sedangkan amonia pada setiap kolam akuaponik tidak hanya dimanfaatkan oleh alga, akan tetapi dimanfaatkan juga oleh tanaman kangkung sebagai sumber nutrisi.

B.     Pertumbuhan Panjang dan Berat
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terlihat bahwa peningkatan pertumbuhan panjang dan berat rata-rata ikan patin sejak awal pemeliharaan hingga akhir pemeliharaan dengan penambahan berat 3 gram dan panjang hingga 5 cm. Pertumbuhan ini termasuk kurang baik dalam pemeliharaan satu bulan. Menurut Khairuman (2006), untuk jenis-jenis ikan budidaya seperti ikan patin baik yang dipelihara secara semi intensif maupun intensif pertumbuhannya akan sangat cepat karena pakan yang dimakan sepenuhnya mengandalkan suplai pakan yang diberikan,  sangat berbeda dengan ikan patin yang dipelihara secara tradisional atau yang dipelihara  di alam bebas di alam, hanya memanfaatkan pakan yang tersedia secara alami.

C. Kelangsungan Hidup
            Untuk kelangsungan hidup yang didapatkan selama pemeliharaan adalah 18%. Kelangsungan hidup ikan pada percobaan ini tidak berlangsung secara maksimal karena ikan yang hidup hanya delapan ekor. Faktor yang menyebabkan ikan mengalami kematian diantaranya pemberian pakan yang tidak teratur sehingga ikan tidak mendapatkan asupan nutrisi yang optimal, faktor lainnya juga pemberian pakan yang terlalu banyak sehingga kualitas air menurun konsumsi oksigen yang terlarut sangat rendah (Khairuman, 2006).











V. KESIMPULAN DAN SARAN



A.  Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum akuaponik ini adalah sebagai berikut :
1. Aquaponik adalah salah satu teknologi yang mengkombinasikan ikan dan tanaman air    
    untuk manajemen kualitas air secara optimal.
2.    Kadar oksigen terlarut di perairan atau di kolam yang optimal bagi pertumbuhan ikan
patin yaitu >5 ppm
.
3.    Hasil pengukuran pH kelompok tiga adalah netral yaitu 7,3, 7, 7,4 dan 7,5.
4.    Kelangsungan hidup ikan yang didapat dari praktikum ini adalah 18%, Kelangsungan hidup didapat selama pemeliharaan sangat rendah dikarenakan kurang optimalnya manajemen pemperian pakan.
5.    Dari hasil teknologi akuaponik kangkung termasuk tumbuhan yang paling baik dibandingkan tumbuhan lainnya.

B.  Saran
Sebaiknya pemeliharaan ikan pada praktikum ini harus memperhatikan pemberian pakan yang teratur dan sesuai dengan kebutuhan, karena bila ikan tidak diberi makan maka ikan akan mengalami kematian.







DAFTAR PUSTAKA



Boyd, C.E. 2000. Budidaya Ikan Di Perairan Umum. Kanisius. Yogyakarta
Darusalam AY. 2005. Kondisi kualitas air tambak udang windu Penaeus monodon dengan pemanfaatan larutan nutrien. [Skripsi]. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Fadhil. 2011. Telaah Kualitas Air  Bagi Pengelola Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Khairuman. 2006.  Konsumsi Pakan Untuk Ikan Air Tawar. Gramedia. Jakarta. 
Macan,T.T, 1960. A Guide to Freshwater invertebrate animals, Longmans, Green & Co Ltd: London.
Nelson, R.1998. Aquaponics Journal Voi.N No.5. Nelson/Pade Multimedia PO Box 1848: Mariposa, CA , USA.
Singarimbun, M. dan Effendi, S. 1987. Metode Penelitian Survai. Edisi Revisi.LP3S. Jakarta.
Soeseno, S. 1993. Pemeliharaan Ikan di Kolam Pekarangan. Kanisius. Yogyakarta.
Susanto, Heru dan Amri, Khairul. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya, Jakarta.

Taufik.  2010. Uji Mul Tl Lokasi Pada Budidaya Ikan Nila Dengan Sistim Akuaponik. Badan Riset Kelautan Dan Perikanan (Brkp) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor.
US EPA. 1976. Quality Criteria for Water. Washington DC: US. Wheatherley. 1972. Growth and Ecology of Fish Population. Academick Press. London.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

Lucky 15 Casino - Jackson, MS - JM Hub
› jm-hub 서울특별 출장안마김포 출장샵 lucky-15 › jm-hub › lucky-15 Lucky 15 Casino is located just a mile from the Mississippi River. The casino is located near JAMPO BOX, 4200 N 울산광역 출장샵 Maricopa 부천 출장샵 Rd, Jackson, MS 38664. The casino 하남 출장안마