I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akuaponik (aquaponic) merupakan
salah satu teknologi budidaya yang mengkombinasikan pemeliharaan ikan dengan
tanaman (Nelson, 1998). Teknologi ini merupakan teknologi terapan hemat lahan
dan air dalam budidaya ikan sehingga dapat dijadikan sebagai suatu model
perikanan perkotaan dan pertamanan di kompleks perumahan. Penerapan sistem
akuaponik
pada budidaya ikan nila di lokasi-lokasi berbeda diduga memiliki
keanekaragaman hayati biota air non ikan yang berbeda. Plankton dan makrobentos
merupakan bagian penting dari rantai makanan (food chain) dalam
lingkungan budidaya ikan dan memiliki peranan penting pada kualitas air suatu
perairan, apabila perairan tersebut cukup unsur hara untuk pertumbuhan plankton
dan terdapat banyak jenis benthos hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas
air di perairan tersebut bagus (Macan, 1960).
Sejauh ini sistem budidaya akuaponik
masih sebatas kajian riset yang terus dikembangkan dan disempurnakan, sehingga
perlu diuji penerapannya diberbagai lokasi yang berbeda seperti dataran tinggi,
sedang dan rendah dengan jenis komoditas yang berbeda pula (Macan, 1960).
Sistem akuaponik kualitas air, jenis dan
komposisi biota air seperti ikan merupakan suatu rangkaian yang akan meningkatkan
produktivitas dari ikan. Dengan mengetahui komposisi jenis dan kelimpahan plankton
dan makrobentos pada kolam ikan patin dalam penerapan sistim akuaponik akan
diketahui kondisi ekologis kolam dan keseimbangannya guna pengelolaan
lingkungan budidaya (Wheatherley, 1972).
Macan (1960) menambahkan salah satu cara untuk manajemen kualitas air yang baik untuk ikan patin dapat menggunakan sistem teknologi akuaponik yang mengkombinasikan ikan dan tumbuhan air seperti kangkung, sisa buangan ikan seperti feses dan urin akan diserap oleh tumbuhan air untuk dimanfaatkan.
Macan (1960) menambahkan salah satu cara untuk manajemen kualitas air yang baik untuk ikan patin dapat menggunakan sistem teknologi akuaponik yang mengkombinasikan ikan dan tumbuhan air seperti kangkung, sisa buangan ikan seperti feses dan urin akan diserap oleh tumbuhan air untuk dimanfaatkan.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui cara pembuatan teknologi
akuaponik.
2. Untuk mengetahui kualitas air ikan patin
dengan teknologi akuaponik.
3.
Untuk
mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin (Pangasius pangasius).
|
|
A. Sistematika dan Morfologi Ikan Ikan
Patin (Pangasius pangasius)
Menurut Lingga et al. ( 2000), sistematika ikan patin adalah sebagai
berikut :
kingdom : Animalia
filum : Chordata
filum : Chordata
kelas : Pisces
ordo : Ostariophysi
famili : Pangasidae
genus : Pangasius
spesies : Pangasius pangasius
Ikan patin merupakan salah satu golongan
ikan catfish yang banyak terdapat di
negara Asia. Di Indonesia ikan ini dikenal dengan sebutan ikan patin. Ikan
patin yang ada di Indonesia memiliki bentuk badan yang sedikit memipih, kulit
tidak bersisik, mulut subterminal dengan dua pasang sungut peraba (barbels). Memiliki patil pada sirip
punggung dan sirip dada, sirip analnya panjang dimulai dari belakang anal
sampai pangkal sirip ekor. Ikan patin memiliki beberapa sifat biologis
diantaranya nokturnal atau melakukan aktifitas pada malam hari. Seperti halnya
ikan catfish yang lainnya ikan patin
adalah golongan ikan omnivora (Susanto
dan Amri, 2002).
B. Kualitas
Air
Kualitas air
didefinisikan sebagai salah satu faktor parameter kelayakan suatu media
perairan untuk menunjang kehidupan dan kelangsungan pertumbuhan organisme
akuatik yang nilai kualitas airnya dibatasi dalam kisaran tertentu sesuai
kebutuhan organisme tersebut.
1. Parameter Fisika
a.
Suhu
Parameter fisika merupakan
salah satu parameter yang sangat penting, karena dari parameter fisika akan
berdampak terhadap parameter lainnya, seperti parameter fisika, kimia dan
parameter biologi. Salah satu parameter fisika adalah suhu atau temperatur air
sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta
memengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan khususnya ikan. Suhu
optimal untuk hidup ikan patin pada kisaran 28-29
oC (Boyd, 2000).
2.
Parameter Kimia
a.
pH
Parameter kualitas air ditinjau dari nilai pH merupakan indikator
tingkat keasaman perairan akibat konsentrasi ion H+ atau ion OH-
yang berlebih atau dalam kondisi netral. Beberapa faktor yang memengaruhi pH di
perairan di antaranya aktivitas fotosintesis dan suhu. Setiap jenis ikan
memiliki toleransi terhadap pH yang berbeda-beda, perbedaan yang jelas terdapat
pada ikan-ikan yang memiliki alat bantu pernapasan seperti labirin. Nilai pH
yang ditoleransi ikan patin berkisar antara 7,2-7,5
(Boyd, 2000).
(Boyd, 2000).
b. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut diperairan memiliki peranan sangat penting,
misalnya dibutuhkan oleh bakteri untuk proses dekomposi bahan organik dan
diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan, aktivitas berenang,
pertumbuhan, reproduksi ikan. Sumber oksigen perairan dapat berasal dari difusi
oksigen yang terdapat di atmosfer kurang lebih sekitar 35% dan aktivitas
fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Keberadaan oksigen terlarut di
perairan dipengaruhi oleh parameter kualitas lainya, misalnya kondisi suhu dan
nilai pH. Kadar oksigen terlarut di perairan atau di kolam yang optimal bagi
pertumbuhan ikan patin yaitu >5 ppm (Kusdiarti,
2006).
c.
CO2
Karbon dioksida yang terlarut di
perairan merupakan salah satu racun bagi organisme di perairan. Keberadaan karbondioksida
yang berlebih dapat menghambat pertumbuhan ikan dan apa bila keberadaan karbon
dioksida di perairan tidak mampu ditolerir lagi oleh ikan dapat menyebabkan kematian
pada ikan. Sumber karbondioksida bisa akibat difusi dari atmosfer bisa juga hasil
dari dekomposi bahan organik oleh bakteri anaerob. Keadaan konsentrasi CO2 yang masih dapat
ditolerir oleh ikan patin
antara 15-30
ppm (Boyd, 2000)
d.
Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam
tanpa penurunan nilai pH larutan. Alkalinitas mampu menetralisir keasaman di
dalam air, secara khusus alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang
menunjukkan kapasitas pembufferan dari ion bikarbonat, dan tahap tertentu ion karbonat dan
hidroksida dalam air. Dalam budidaya ikan,
alkalinitas menyediakan kapasitas penyangga (buffer) yang dibutuhkan
untuk melindungi ikan yang dibudidayakan secara intensif untuk melawan goyangan
lebar pH air yang akan terjadi dikarenakan CO2 hasil respirasi dari ikan dan tanaman
akuatik. Untuk budidaya ikan patin, alkalinitas 100-150 mg/L
direkomendasikan untuk menyediakan kapasitas menyangga yang diperlukan untuk
mencegah fluktuasi pH, mendukung produksi algae, mencegah pelepasan logam
berat, dan untuk memungkinkan penggunaan senyawa tembaga untuk treatment penyakit (Darusalam, 2005).
e. Amonia
Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari organisme
akuatik. Sumber utama amonia (NH3) adalah bahan organik dalam bentuk
sisa pakan, kotoran ikan maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik tersuspensi.
Pembusukan bahan organik, terutama yang banyak mengandung protein, menghasilkan
ammonium (NH4+) dan NH3. Bila proses lanjut
dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka dapat terjadi
penumpukan NH3 sampai pada konsentrasi yang membahayakan atau tidak
dapat ditolerir bagi ikan dapat mengakibatkan kematian ikan. Kandungan amonia
yang dapat ditolerir bagi ikan patin yaitu pada kisaran 0,1-0,3
ppm (Darusalam, 2005).
C. Manajemen Kualitas Air (Akuaponik)
Penerapan teknologi
akuaponik sangat beragam bentuk dan ukuran medianya, salah satu yang penting
yaitu bentuk atau struktur setiap bagian dari sitem teknologi akuaponik. Bentuk
dari teknologi akuoponik akan menentukan tingkat kemudahan dalam manajemen kualitas
air dan kuantitas air. Bagian terpenting dari manajemen
kualitas air dalam
teknologi akaponik adalah bagaimana cara
membuat masa air sehomogen mungkin, yang nantinya pengadukannya akan dibantu
oleh teknologi pompa,
jadi dengan adanya
konstruksi sebagaimanapun bentuknya asalkan tidak porus maka kualitas air bisa
distabilkan (Fadhil, 2011).
Manajemen
kualitas air dalam teknologi akuaponik sangat berhubungan erat dengan kontruksi
media dalam penerapan teknologi akuaponik, seperti misalnya peletakan tumbuhan
air, tingkat porus media akuarium atau kolam serta posisi alat pemompa air dan
yang tak kalah penting adalah posisi zona dead
zone. Zona dead zone adalah terjadinya titik daerah mati
di dalam perairan, dimana terjadi penumpukan bahan organik atau sampah yang terkumpul pada area-area tertentu
di akuarium atau kolam. Daerah ini kadar amonia dan gas-gas beracun cenderung tinggi sehingga tidak disukai oleh ikan. Apabila ada pakan
ikan yang jatuh pada titik-titik ini maka ikan tidak akan mau makan, atau daerah ini tempat menjadi sarangnya beberapa bakteri patogen yang
menyebabkan sakit pada ikan ( US EPA, 1976)
Penggunaan
tanaman dan media tempat tumbuhnya tanaman tersebut harus tepat guna sesuai
dengan tujuan teknologi akuaponik, misalnya struktur akar yang baik untuk
proses jerapan nitrogen oleh tanaman hasil dari limbah kotoran ikan, serta ukuran dan tingkat pertumbuhan daun terhadap ukuran
teknologi akuaponik jangan melebihi karena pada malam
hari akan merugikan, terjadinya kompetisi oksigen antara ikan dengan tanaman (Taufik,
2010).
D.
Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah
pertambahan ukuran panjang atau berat dalam kurun waktu
tertentu, melalui proses biologis yang komplek dimana banyak faktor mempengaruhinya. Pertumbuhan
ikan patin dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi
genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan
dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan
fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan penyakit (Singarimbun
dan Effendi, 1987).
Ikan patin termasuk jenis ikan yang
pertumbuhannya sangat cepat. Salah satu faktor yang mempengaruhinya yaitu pakan
yang dikonsumsi seperti pakan yang mengandung protein yang tinggi, protein merupakan nutrien yang paling penting bagi
pertumbuhan ikan patin
karena protein yang kisarannya 65-75% dan berfungsi sebagai bahan pembentuk
jaringan tubuh dalam proses pertumbuhan ikan patin. Pakan sangat
mempengaruhi pertumbuhan ikan
patin (Soeseno, 1993).
E. Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup atau sering
disebut dengan istilah Survival Rate (SR) adalah jumlah ikan yang
hidup hingga akhir pemeliharaan. Untuk mengetahuinya digunakan rumus sederhana,
yaitu jumlah ikan yang ditebar dikurangi dengan jumlah ikan yang hidup kali
seratus persen. Kelangsungan hidup ikan patin khusunya pada
budidaya yang diterapkan teknologi akuaponik dengan perlakuan tipe permukaan
medianya menyatakan bahwa pada dataran tinggi kelangsungan hidup dapat mencapai
70,11%, pada dataran sedang sebesar 74,80 % dan pada dataran rendah tingkat
kelangsungan hidup mencapai kurang lebih 71,21% (Soeseno,
1993).
Kelangsungan hidup ikan patin dalam
teknologi akaponik sangat ditentukan oleh kualitas air, dinyatakan bahwa
rendahnya tingkat pertumbuhan mutlak ikan patin pada nilai
padat tebar yang relatif tinggi akan mengakibatnya rendahnya standar mutu
kualitas air. Selain itu ketepatan pemberian pakan juga dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup karena metode pemberian pakan akan berdampak pada tingkat
pertumbuhan ikan patin dan konsentrasi limbah pakan yang dapat
mengakibatkan kematian saat bersifat racun saat berada dalam perairan. Tingkat
kelangsungan hidup yang lebih tinggi menggambarkan kondisi pemeliharaan dan
kondisi fisiologi ikan patin yang baik, serta kualitas air yang
mendukung pertumbuhan ikan patin (Singarimbun dan Effendi, 1987).
|
|
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Kualitas Air ini
dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2013 di Laboratorium Dasar Bersama Perikanan, Program Studi Budidaya
Perairan, Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya,
Indralaya.
B. Alat dan
Bahan
1. Alat
Adapun alat yang
digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 1 yaitu sebagai berikut
:
Tabel
1. Alat yang digunakan dalam praktikum
|
No.
|
Alat
|
Spesifikasi
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Akuarium 60 cm x 40 cm x 50
cm
|
1 buah
|
Tempat ikan
|
|
2.
3.
4.
5.
6
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
|
Wadah tanaman
Pompa
Pipa
Dop
Batu kerikil
Arang
Spuit suntik
pH meter
Do meter
Spektofotometer
Termometer
Erlenmeyer
Beker glass
|
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
Secukupnya
Secukupnya
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah
|
Tempat kangkung
Memompa air
Aliran air
Penyambung pipa
Media filtrasi
Media filtrasi
Untuk titrasi
Untuk mengukur pH air
Untuk mengukur oksigen
terlarut
Untuk mengukur amonia
Untuk mengukur suhu
Untuk mengambil sampel
Untuk mengambil sampel
|
2.
Bahan
Adapun bahan yang
digunakan dalam praktikum ini dapat dilihat pada tabel 2 yaitu sebagai berikut :
Tabel 2. Bahan yang
digunakan saat praktikum
|
No.
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
Fungsi
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Ikan Patin
Pelet
Air
Kangkung
|
15 ekor
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
|
Objek pemeliharaan
Pakan ikan
Media budidaya
Media filter
|
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum pemeliharaan
ikan dengan teknologi akuaponik
adalah sebagai berikut:
1.
Persiapan wadah
Praktikum pemeliharaan ikan dengan
teknologi akuaponik ini dimulai dengan cara kerja persiapan akuarium berukuran
60x40x50 cm dan pemasangan kotak filtrasi sekaligus sebagai tempat tanaman
kangkung tumbuh. Setelah akuarium dan kotak filtrasi siap, sarana dan prasarana
seperti batu kerikil pompa air dan pipa-pipa untuk resirkulasi air, tanaman
kangkung disusun sesuai dengan bentuk akuarium. Kemudian media diuji coba 1
hari untuk memastikan semua fungsi berjalan dengan baik, baru dilakukan
penebaran ikan nila yang sebelumnya telah diukur panjang dan berat ikan.
2.
Pemeliharaan ikan
Pemeliharaan ikan patin dalam media dengan menggunakan teknologi
akuaponik kurang lebih dilakukan selama 1 bulan. Selama pemeliharaan ikan
dikontrol terus menerus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.
3.
Pemberian pakan
Selama waktu pemeliharaan pemberian pakan
ikan dilakukan dengan metode at station dengan periode waktu pemberian pakan
dilakukan pagi hari pukul 09.00, siang hari pukul 13.00 dan sore pukul 16.00.
Tujuan dilakukannya pemberian pakan secara at
station untuk mempertahankan kualitas air dari sisa pakan ikan.
4.
Parameter yang diamati
a. Parameter Fisika
Parameter
fisika yang diamati adalah suhu. Suhu
diukur dengan menggunakan termometer, sebelum melakukan pengukuran suhu, termometer terlebih dahulu dikalibrasi dengan akuades.
b. Parameter Kimia
Parameter
kimia yang diamati adalah pH,
DO, CO2, alkalinitas
dan amonia. DO diukur dengan
menggunakan DO meter. Dalam pengukuran DO dan pH, alat
terlebih dahulu dikalibrasi dengan akuades.
Pengukuran CO2 dengan cara mengambil air sampel 25 ml, masukkan
kedalam Erlenmeyer. Tambahkan 3-4 tetes indikator PP, jika berwarna pink
berarti tidak ada CO2, jika berwarna pink berarti ada CO2. Kemudian
air dititrasi dengan larutan NaOH 0,227. Pengukuran alkalinitas dengan cara
mengambil air sampel dengan Erlenmeyer. Tambahkan 2 tetes indikator PP dan
indikator MO sebanyak 3-4 tetes, lalu titrasi dengan H2SO4
0,02 N sampai terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah kebiruan.
c. Pertumbuhan
Pertumbuhan ikan yang diamati adalah pertumbuhan panjang dan berat ikan patin yang
telah dipelihara.
d. Kelangsungan hidup
Tingkat kelangsungan hidup
atau Survival Rate (SR) ikan patin
dihitung berdasarkan seberapa banyak ikan yang hidup kemudian dihitung dengan
menggunakan rumus :
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun data-data hasil pengamatan selama pemeliharaan adalah
sebagai berikut:
A. Kualitas Air
Gambar
1. Grafik fluktuasi suhu
Hasil parameter suhu
teknologi akuaponik skala akuarium kelompok tiga tidak menunjukkan kondisi suhu
yang ekstrim karena kisaran suhu tersebut adalah
27-29oC percobaan sistem teknologi akuaponik ini dilakukan di dalam ruangan sehingga suhunya lebih stabil. Menurut Boyd (2000), suhu yang baik untuk pemeliharaan ikan patin adalah 28-29oC, jadi teknologi akuaponik tersebut baik untuk pemeliharaan ikan patin terutama pada parameter suhu (Taufik, 2010).
27-29oC percobaan sistem teknologi akuaponik ini dilakukan di dalam ruangan sehingga suhunya lebih stabil. Menurut Boyd (2000), suhu yang baik untuk pemeliharaan ikan patin adalah 28-29oC, jadi teknologi akuaponik tersebut baik untuk pemeliharaan ikan patin terutama pada parameter suhu (Taufik, 2010).
Gambar 2. Grafik fluktuasi pH
Hasil pengukuran pH kelompok tiga berkisar 7- 7,4. Hasil
pengukuran pH ini dapat menunjukkan bahwa kualitas air pada teknologi akuaponik
skala akuarium ini memiliki pH yang netral setiap minggunya, hal ini
menunjukkan bahwa dengan akuaponik parameter kualitas air seimbang sesuai
dengan parameter hidup ikan terutama ikan patin. Menurut Boyd
(2000), nilai pH yang
ditoleransi ikan patin berkisar antara 7,2-7,5.
Gambar 3. Grafik fluktuasi DO
Adapun hasil pengukuran DO air saat pemeliharaan berkisar 3,72-4,65 mg/L. Hal
ini menunjukkan teknologi akuaponik tersebut baik untuk pemeliharaan dan
budidaya ikan patin. Menurut Kusdiarti (2006),
kisaran DO untuk ikan patin adalah >5 mg/L.
Gambar 4. Grafik fluktuasi Alkalinitas
Alkalinitas
menggambarkan jumlah basa (alkaline) yang terkandung dalam air. untuk budidaya ikan patin direkomendasikan untuk
menyediakan kapasitas menyangga yang diperlukan untuk mencegah fluktuasi pH,
mendukung produksi algae, mencegah pelepasan logam berat, dan untuk
memungkinkan penggunaan senyawa tembaga untuk treatment penyakit serta mempertahankan
kepekaan membran sel dalam jaringan saraf dan otot. Dari hasil praktikum ini mengalami
kenaikkan alkalinitas, hal ini disebabkan karena sistem akuaponik dapat
meningkatkan dan menjaga kestabilan air. Menurut Wedemeyer
(1996), nilai alkalinitas untuk ikan patin yang dibudidaya secara intensif
berkisar 100-150 ppm.
Gambar 5. Grafik fluktuasi Amonia
Hasil parameter
amonia teknologi akuaponik skala akuarium kelompok tiga menunjukkan kondisi
kualitas air yang baik karena kandungan amonia dalam percobaan teknologi
akuaponik ini mengalami penurunan kadar amonia yaitu dari 0,03 menjadi 0,02
ppm, Menurut Darusalam (2005) kandungan amonia
yang dapat ditolerir bagi ikan patin
yaitu pada kisaran 0,1-0,3 ppm, sisa buangan
ikan seperti feses dan urin (amonia) akan diserap oleh tumbuhan air untuk
dimanfaatkan dalam proses pembuatan makanan tumbuhan itu sendiri. Hal ini juga
ditunjang oleh (Tyson, 2007) bahwa sedangkan amonia pada setiap kolam akuaponik
tidak hanya dimanfaatkan oleh alga, akan tetapi dimanfaatkan juga oleh tanaman
kangkung sebagai sumber nutrisi.
B. Pertumbuhan Panjang dan Berat
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terlihat
bahwa peningkatan pertumbuhan panjang dan berat rata-rata ikan patin sejak awal
pemeliharaan hingga akhir pemeliharaan dengan penambahan berat 3 gram dan
panjang hingga 5 cm. Pertumbuhan ini termasuk kurang baik dalam pemeliharaan
satu bulan. Menurut Khairuman (2006), untuk jenis-jenis ikan budidaya seperti ikan patin baik yang
dipelihara secara semi intensif maupun intensif pertumbuhannya akan sangat cepat karena pakan yang dimakan
sepenuhnya mengandalkan suplai pakan yang diberikan, sangat berbeda dengan ikan patin yang dipelihara secara tradisional atau yang dipelihara di alam bebas di alam, hanya memanfaatkan
pakan yang tersedia secara alami.
C. Kelangsungan Hidup
Untuk kelangsungan hidup yang didapatkan selama
pemeliharaan adalah 18%. Kelangsungan hidup ikan pada percobaan ini tidak berlangsung
secara maksimal karena ikan yang hidup hanya delapan ekor. Faktor yang
menyebabkan ikan mengalami kematian diantaranya pemberian pakan yang tidak
teratur sehingga ikan tidak mendapatkan asupan nutrisi yang optimal, faktor
lainnya juga pemberian pakan yang terlalu banyak sehingga kualitas air menurun
konsumsi oksigen yang terlarut sangat rendah (Khairuman, 2006).
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang
dapat diambil dari praktikum akuaponik ini adalah sebagai berikut :
1. Aquaponik adalah
salah satu teknologi yang mengkombinasikan ikan dan tanaman air
untuk manajemen kualitas air secara optimal.
untuk manajemen kualitas air secara optimal.
2.
Kadar oksigen
terlarut di perairan atau di kolam yang optimal bagi pertumbuhan ikan
patin yaitu >5 ppm.
patin yaitu >5 ppm.
3.
Hasil pengukuran pH kelompok tiga adalah netral
yaitu 7,3, 7, 7,4 dan 7,5.
4.
Kelangsungan hidup ikan yang didapat dari
praktikum ini adalah 18%, Kelangsungan hidup didapat selama pemeliharaan sangat
rendah dikarenakan kurang optimalnya manajemen pemperian pakan.
5.
Dari hasil teknologi akuaponik kangkung termasuk
tumbuhan yang paling baik dibandingkan tumbuhan lainnya.
B. Saran
Sebaiknya pemeliharaan
ikan pada praktikum ini harus memperhatikan pemberian pakan yang teratur dan
sesuai dengan kebutuhan, karena bila ikan tidak diberi makan maka ikan akan
mengalami kematian.
|
|
Boyd,
C.E. 2000. Budidaya Ikan Di Perairan
Umum. Kanisius. Yogyakarta
Darusalam AY. 2005. Kondisi kualitas air tambak udang windu
Penaeus monodon dengan pemanfaatan larutan nutrien. [Skripsi]. Program Studi
Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Fakultas Perikanan dan Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
Fadhil.
2011. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelola Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Khairuman.
2006. Konsumsi
Pakan Untuk Ikan Air Tawar. Gramedia. Jakarta.
Macan,T.T, 1960.
A Guide to Freshwater invertebrate animals, Longmans, Green & Co Ltd:
London.
Nelson,
R.1998. Aquaponics Journal Voi.N No.5. Nelson/Pade Multimedia PO Box 1848:
Mariposa, CA , USA.
Singarimbun,
M. dan Effendi, S. 1987. Metode
Penelitian Survai. Edisi Revisi.LP3S.
Jakarta.
Soeseno,
S. 1993. Pemeliharaan Ikan di Kolam
Pekarangan. Kanisius. Yogyakarta.
Susanto, Heru dan Amri, Khairul. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya, Jakarta.
Taufik. 2010. Uji Mul Tl Lokasi Pada Budidaya Ikan
Nila Dengan Sistim Akuaponik. Badan Riset Kelautan Dan Perikanan (Brkp) Balai
Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor.
US EPA.
1976. Quality Criteria for Water. Washington DC: US. Wheatherley. 1972. Growth and Ecology of Fish Population.
Academick Press. London.
1 komentar:
Lucky 15 Casino - Jackson, MS - JM Hub
› jm-hub 서울특별 출장안마 › 김포 출장샵 lucky-15 › jm-hub › lucky-15 Lucky 15 Casino is located just a mile from the Mississippi River. The casino is located near JAMPO BOX, 4200 N 울산광역 출장샵 Maricopa 부천 출장샵 Rd, Jackson, MS 38664. The casino 하남 출장안마
Posting Komentar