Jumat, 20 Juni 2014

Laporan Praktikum Perairan Rawa


I. PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Perairan umum adalah bagian dari permukaan bumi yang secara permanen ataupun berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau dan air laut mulai dari garis pasang surut terendah hingga kearah daratan dan merupakan badan air yang secara alami atau buatan bukan milik perseorangan ataupun perusahaan tetapi miliki masyarakat umum. Di Indonesia, perairan umum terdiri dari danau, waduk, sungai, saluran irigasi dan laut yang memiliki total luas perairan umum sekitar 55 juta Ha pada saat musim penghujan dan 18 juta Ha ketika musim kemarau. Perairan umum daratan terluas di Indonesia adalah berada di Pulau Kalimantan (65%), Pulau Sumatera (23%), Pualau Papua (7,8%), Pulau Sulawesi (3,5%) dan Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (0,7%) (Sarnita, 1986 dalam Muslim, 2012).
Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan (2001) dalam Muslim 2012, luas perairan umum Sumatera Selatan mencapai 2,5 juta Ha yang terdiri dari 43% rawa lebak, 31% sungai besar serta anaknya, 11% danau dan 15% rawa pasang surut.
Rawa secara umum berarti semua lahan basah yang bervegatasi, baik berairan tawar, payau dan laut, yang berhutan atau tanaman rerumputan. Karakteristik rawa yaitu lahan basah, berair tawar, payau dan laut, terletak didataran rendah dan bervegetasi baik vegetasi tinggi (hutan) maupun vegetasi rendah (rerumputan).

Rawa yang terletak di Sumatera Selatan adalah rawa dengan karakteristik lebak yang memiliki lebung dengan luas 43% dari total perairan umum. Rawa lebak lebung memiliki karakteristik berupa talang (daerah tertinggi yang ketika air sungai meluap, bagian rawa ini tidak tergenang), rawa rerumputan (bagian dari rawa lebak yang didominasi oleh vegetasi rumput kumpai dari family graminae), rawa hutan atau rawang (bagian rawa yang sejajar dengan rawa rerumputan dan biasanya didominasi oleh tumbuhan tinggi (pohon), dan batanghari (sungai utama) (Muslim, 2012).
Pemanfaatan rawa lebak oleh masyarakat setempat umumnya untuk pengembangan pertanian, perikanan, dan peternakan. Berbagai jenis tanaman dari pangan, palawija, sayuran sampai dengan tanaman perkebunan mempunyai peluang untuk dikembangkan di lahan rawa lebak. Vegetasi yang terdapat di perairan lebak lebung sumatera Selatan terbagi menjadi beberapa golongan yaitu (1) tumbuhan tegakan, seperti gelam, putat, perepat, beriang, geti dan rengas; (2) berakar didasar, muncul diatas permukaan seperti belidang, paku-pakuan dan purun; (3) berakar didasar, mengapung di permukaan air, seperti kumpai, teratai dan sabut lincah; (4) mengapung bebas dipermukaan air seperti bakung, kecapu, pandan dan rasau; (5) tumbuhan darat suka diair seperti bento. Berbagai jenis ikan yang disebut ikan hitam (Blackfish)  dan ikan putih (Whitefish) umum ditemukan di rawa lebak (Muslim, 2012).
Rawa banyak berkaitan dengan perikanan karena kondisi rawa secara alami merupakan potensi untuk pengembangan perikanan. Dari sudut ekologi rawa lebak memiliki kekayaan berupa sumber daya hayati dan kesesuaian lingkungan bagi usaha-usaha perikanan. Perkembangan usaha perikanan mulai mendapat perhatian besar namun disisi lain dorongan terhadap eksploitasi sumber daya perikanan secara sembarangan dan tidak berkelanjutan perlu dihindarkan. Tekanan ekologi terhadap sumber daya perikanan akibat pengembangan teknologi dan pengelolaan yang tidak ramah lingkungan mendorong percepatan penurunan populasi ikan bahkan pemusnahan beberapa jenis ikan (Sunarno, 2006).

B.     Tujuan
Dengan dilakukannya praktikum ini diharapkan mahasiswa mengetahui kondisi potensi sumberdaya perairan di Sumatera Selatan, sehingga pemanfaatanya tidak merusak kelestarian sumberdaya hayati perairan terutama jenis-jenis ikan bernilai tinggi. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui :
1.      Kondisi sumberdaya perairan di suaka perikanan
2.      Kondisi sumberdaya perikanan tangkap di perairan rawa
3.      Kondisi sumberdaya perikanan budidaya di perairan rawa
4.      Lelang lebak lebung di Sumatera Selatan
5.      Aktifitas penangkapan ikan serta alat tangkap yang digunakan
6.      Pengolahan dan pengawetan ikan rawa
7.      Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar perairan





II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.    Perikanan Tangkap di Rawa

Secara garis besar, sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan melalui penangkapan ikan (perikanan tangkap) dan budidaya ikan. Sehingga usaha perikanan merupakan semua kegiatan yang dilakukan secara perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan termasuk menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersil dan mendapatkan laba dari kegiatan yang dilakukan (Monintja, 2001).
Melihat keadaan sumberdaya perikanan Indonesia khususnya perikanan tangkap, telah mengalami over fishing pada beberapa daerah dan adanya penurunan dari produksi perikanan tangkap dunia, maka dalam pembangunan perikanan Indonesia kedepan lebih memfokuskan kepada peningkatan produksi di perikanan budiaya. Hal ini terlihat pada trilogi pembangunan perikanan Indonesia yaitu kendalikan perikanan tangkap, kembangkan perikanan budidaya, tingkatkan mutu dan nilai tambah. Selain itu juga dibutuhkan kebijakan terintegrasi dan konvergen untuk membangun ocean economic dalam 3 pilar (a) national ocean policy, (b) national ocean economic policy, dan (c) national ocean governance. (KKP, 2010)

B.     Budidaya Perikanan di Rawa
Sistem budidaya perikanan di lahan rawa lebak sangat erat kaitannya dengan unsur budaya dan etnik setempat. Dalam hal ini usaha perikanan dirawa lebak dapat dipilah dalam bentuk perikanan tangkap, beje, keramba

. Pemanfaatan rawa lebak ini secara umum masih terbatas dan hanya barsifat untuk menopang kehidupan sehari-hari. Upaya pemanfaatan lahan rawa lebak ini masih bersifat tradisional yang meliputi untuk pertanian, perikanan tangkap dan peternakan dengan sistem gembala (Noor, 2007)
Sistem pertanian, peternakan dan perikanan yang dilakukan penduduk setempat ini sudah sejak lama dan dilakukan secara turun temurun diwariskan. Tetapi belum banyak disentuh teknologi modern yang menuntut efisiensi dan keuntungan. Pertanian, perikanan maupun peternakan dirawa lebak umumnya dikelola secara mandirii (rakyat) yang bersifat terbatas dengan hasil yang beragam dari musim ke musim tergantung pada keramahan alam, terutama iklim, curah hujan dan genangan yang erat terkait dengan kondisi lingkungan alamiahnya dengan tuntutan pasar (Noor, 2007).
            Sistem budidaya ikan yang biasa digunakan masyarakat yaitu dengan menggunakan sistem keramba. Keramba adalah wadah yang digunakan untuk memelihara biota air, terutam ikan air tawar dan udang galah, yang ditemapatkan dalam wadah air yang dangkal sehingga sebagian keramba muncul di atas permukaan air. Metode pemeliharaan biota budidaya dalam keramba ummunya diterapkan disungai dangkal dan saluran air. Penempatan keramba di dasar perairan tertutup yang mencuat di muka air cukup menguntungkan dalam pemeliharaan ikan (Kordi, 2008).

C.    Pengolahan dan Pengawetan Ikan Rawa
Pengawetan merupakan usaha manusia untuk mempertinggi daya tahan dan daya simpan ikan dengan tujuan agar kualitas ikan dapat dipertahankan tetap dalam kondisi baik. Penanganan ikan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan karena dapat mempengaruhi mutu. Baik buruknya penanganan ikan segar akan mempengaruhi mutu ikan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan mentah untuk proses pengolahan lebih lanjut (Ilyas.S, et.al, 1992 dalam Sunarno, 2006).
Dengan kandungan air cukup tinggi tubuh ikan merupakan media yang cocok untuk kehidupan bakteri pembusuk atau mikroorganisme yang lain, sehingga ikan sangat cepat mengalami proses pembusukan. Kondisi ini sangat merugikan karena dengan kondisi demikian banyak ikan tidak dapat dimanfaatkan dan terpaksa harus dibuang, terutama pada saat produksi melimpah. Oleh karena itu, untuk mencegah proses pembusukan perlu dikembangkan berbagai cara pengawetan dan pengolahan yang cepat dan cermat agar sebagian ikan yang diproduksi dapat dimanfaatkan (Sunarno, 2006).
Adapun contoh pengholahan dan pengawetan ikan yang umum dilakukan oleh masyarakat yaitu :
1. Pemindangan
Pindang adalah sejenis hasil olahan ikan yang diawetkan dengan perebusan dan penggaraman. Pindang tradisional dibuat dalam wadah tanah dan dijual bersama wadahnya, yang lebih kecil praktis dibuat dalam keranjang atau dalam kaleng minyak. Ketahanan ikan pindang disebabkan oleh perebusan dan penggaraman dan bisa bertahan selama 3 bulan. Pemindangan adalah pengalengan yang dilakukan secara tradisional dan sederhana. Ada 2 cara pemindangan yang akan diuraikan yaitu pemindangan dengan wadah tanah dan pemindangan dengan keranjang bambu/rotan.
Cara mengolahnya pun cukup mudah. Mula-mula siapkan wadah, bagian bawah wadah diberi bilah bambu atau daun pisang kering untuk melindungi ikan diatasnya supaya tidak hangus terkena api. Ikan yang telah dibersihkan disusun berlapis-lapis dalam wadah sambil ditaburi garam sampai wadah tersebut penuh dengan pemakaian garam kira-kira 2-15% dari berat ikan dan banyak ikan dalam satu wadah tergantung besar wadah dan besar ikannya kemudian diberi air bersih sampai ikan terendam semuanya, ditutup dengan saringan bambu dan diberi pemberat supaya ikan tidak terapung dan diamkan selama 2-3 jam untuk memperkuat jaringan dagingnya. Dapat ditambahkan kunyit pada pindangan dapat dilakukan supaya pindang itu berwarna kuning dan menghilangkan rasa anyir.
2.   Pengasapan
Pengasapan adalah salah satu cara memasak, memberi aroma, atau proses pengawetan makanan terutama daging ikan. Makanan diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu, serta tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau terbakar. Sebelum diasapi, daging biasanya direndam di dalam air garam. Beberapa jenis ikan tidak perlu direndam lebih dulu di dalam air garam. Setelah dilap dan dikeringkan, makanan digantung di tempat pengasapan yang biasanya memiliki cerobong asap. Sebagai kayu asap biasanya dipakai serpihan kayu yang bila dibakar memiliki aroma harum. Ke dalam kayu bakar bisa ditambahkan rempah-rempah seperti cengkeh dan akar manis.
Sewaktu pengasapan berlangsung, makanan harus dijaga agar seluruh bagian makanan terkena asap. Waktu pengasapan bergantung ukuran potongan daging dan jenis ikan. Api perlu dijaga agar tidak boleh terlalu besar. Bila suhu tempat pengasapan terlalu panas, asap tidak dapat masuk ke dalam makanan. Sewaktu pengasapan dimulai, api yang dipakai tidak boleh terlalu besar.
3. Kerupuk Udang
Kerupuk udang atau ikan adalah produk makanan kering yang berasal dari udang atau ikan yang dicampur dengan tepung tapioka atau tepung terigu. Cara membuatnya pun cukup sederhana ikan yang telah dibersihkan dan digiling dicampurkan dengan bumbu bawang putih dan garam yang telah dihaluskan,  aduk-aduk dan remas-remas sampai adonan bercampur menjadi satu kemudian setelah tercampur rata, tambahkan tepung terigu, tepung tapioka, dan air, aduk-aduk adonan sampai kental, tuangkan adonan ke dalam loyang, kemudian kukus sampai matang lalu dinginkan dan yang terakhir iris-iris adonan dengan tebal ± 0,1 ~ 0,2 mm, kemudian jemur sampai kering.

D.    Sosial Ekonomi Perairan Rawa
Manusia sebagai makhluk hidup dalam melangsungkan kehidupannya tidak lepas dari lingkungan hidup sekitarnya. Lingkungan hidup manusia tersebut menyediakan berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lingkungan hidup setiap wilayah dipermukaan bumi ini memiliki ciri khas tersendiri. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor fisik yang mendukungnya, seperti iklim, geologi, hidrologi, morfologi, tanah dan vegetasi (Sumaatmadja, 1989 dalam Sunarno, 2006).
Tujuan utama pengelolaan perikanan adalah meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang, Perikanan perairan umum sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang bersifat terbuka tidak dilakukan oleh orang sebagai “pemilik” tapi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen. Karena itu semua orang yang mendapat manfaat dari perikanan perairan umum hendaknya ikut menjaga sumberdaya yang berkelanjutan akan mempengaruhi keberlanjutan usaha mereka. Pemerintah pusat seringkali gagal untuk mengembangkan suatu pola pengelolaan yang dapat dijadikan komplemen bagi pengelolaan secara tradisional di suatu daerah. Untuk itu perlu dikembangkan pola pengelolaan bersama yang dapat diartikan sebagai urunan tanggung jawab atau otoritas antara pemerintah dan masyarakat untuk mengelola sumberdaya perikanan. Dengan demikian akan mengurangi konflik sosial dan meningkatkan keakraban sosial dan masyarakat.



III. METODOLOGI
A.  Waktu dan Tempat
Praktikum Perikanan Rawa ini dilaksanakan pada 28 April 2013, lokasi yang dikunjungi adalah Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

B.  Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan yaitu berupa alat tulis dan buku penuntun praktikum. Karena praktikum berupa kunjungan dan wawancara pada masyarakat.

C.  Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode survey. Peserta praktikum (praktikan) mengunjungi lokasi praktikum, melakukan observasi, pengamatan, wawancara, dokumentasi alat-alat penangkapan ikan, aktifitas budidaya, pengolahan ikan, dan segala aspek materi praktikum. Sedangkan materi yang diamati dalam praktikum ini adalah :
1.    Kondisi sumberdaya perairan lokasi praktikum
2.    Kondisi penangkapan ikan di perairan umum (sungai, rawa)
3.    Kondisi budidaya perikanan di perairan rawa
4.    Lelang lebak lebung di Sumatera Selatan
5.    Pengolahan dan pengawetan ikan rawa
6.    Sosial Ekonomi masyarakat sekitar rawa


 


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan kepada beberapa penduduk di Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim di dapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil praktikum
Kategori
Hasil Observasi
A. Sumberdaya Perikanan Tangkap
1.Penangkapan ikan di perairan (sungai dan rawa)
a. Alat tangkap yang digunakan
b. Penangkapan bahan-bahan kimia
2. Jenis usaha lain di sekitar perairan
3. Jenis alat tangkap yang digunakan
4.Cara penangkapan ikan yang merugikan

B. Sumberdaya Perikanan Budidaya
5. Jenis usaha budidaya
    Kalau ada dengan sistem apa
6. Jenis ikan yang dipelihara
7. Benih yang dibeli dari balai
8. Benih yang dibeli dari balai
9. Bagaimana kualitas benih
10. Berapa lama pemeliharaan ikan? Jelaskan !
11. Pertumbuhan ikan yang dipelihara
12. Pakan yang digunakan
13. Pakan buatan yang digunakan
14. Harga pakan/kg (merk apa)
15. Manajemen usaha
16. Pemasaran hasil
17. Harga jual ikan/kg




18. Kendala dalam pemelihara
10



Nilar, tajur dan jala.
Tidak ada
Sawah
Pancing, jala dan bubu
Tidak ada


Tidak ada
-

-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Mas Rp. 23.000
Patin 15.000
Nila Rp. 20.000
Bawal Rp. 35.000
Lain-lain (Palau) Rp. 10.000
-


C. Lelang Lebak Lebung
19. Lokasi lelang
a. Kelurahan
b. Kecamatan
c. Kebupaten
20. Berdasarkan Peraturan Daerah  (PerDa)
(Lama)

(Baru)



21. Tanggal lelang setiap tahun
22. Sebutkan susunan panitia lelang





23. Syarat-syarat panitia dan peserta lelang




24. Peraturan pelaksanaan lelang





D. Pengolahan dan pengawetan hasil perikanan

25. Ikan yang biasa diolah

26. Jenis pengolahan yang biasa dilakukan
27. Lama ketahanan produk hasil olahan





28. Alat yang digunakan dalam pengolahan ikan

29. Cara pemasaran hasil pengolahan ikan

30. Jenis pengawetan yang biasa dilakukan
31. Lama waktu untuk pengawetan
32. Alat yang dipakai untuk pengawetan
33. Pemasaran hasil pengawetan ikan


E. Sosial Ekonomi Masyarakat Perairan Rawa
34. Nama kepala keluarga
35. Jumlah anggota keluarga
36. Jumlah tanggungan keluarga
37. Pendapatan rata-rata per bulan


Kayuara Batu
Muara Belida
Muara Enim


No. 31 Tahun 2004
No. 14 Tahun 2005
Peraturan Kelurahan No. 09 Tahun 2010 (Zona Penyangga)
Peraturan Kelurahan No. 09 Tahun 2010 (Zona Inti)
31 Desember, 1 tahun, 1 kali.
Bupati, Sekretaris Daerah, Kepala Bagian Pemerintahan Desa, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten, Kepala dinas Pendapatan Daerah, Camat, Sekretaris Camat, Staff Kecamatan, Kepala Desa dan unsur lain.
Panitia : Melaksanakan lelang sampai selesai, Membuat berita acara,
Peserta : Berdomosili dalam wilayah tersebut, Menunjukkan KTP dan surat rekomendasi, Berada di tempat lelang tersebut hingga acara selesai.
Peserta lelang yang menawar dengan harga tertinggi adalah pemenangnya dan wajib membayar kontan, Lelang lebak lebung dilaksanakan pada hari itu juga hingga selesai.




Tambakan, sepat mata merah dan ikan seluang
Ikan asin dan bekasam

Bekasam : nasi yang digunakan 5-7 genggam dan bertahan 1 bulan
Ikan asin bisa sampai 1 tahun kalau banyak  garam 35%, jika sedikit garam <10% maka hanya bertahan 1 – 2 bulan.
Gelok, toples, langgaian dan tong


Dimakan sendiri, dijual ke sesama penduduk sekitar dan dijual ke pasar di Palembang.
Penggaraman dan fermentasi.

7 - 10 hari
-
Dimakan sendiri, dijual ke sesama penduduk sekitar dan dijual ke pasar di Palembang.


Bapak Nusa
7 orang
5 orang
Rp. 500.000,-

Tabel 2. Objek Lelang
No
Nama objek lelang
 (sungai, danau, lebak lebung, dll)
Luas objek lelang
Keterangan (lokasi objek lelang, Desa, Kecamatan)
1.

Sungai
1 Ha
Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Tabel 3. Hasil Lelang
No.
Objek Lelang
Harga Lelang (Rp) Satuan Ribu
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012
1.
Sungai
11  Juta
14 Juta
17 Juta
18 Juta
21 Juta

Tabel 4. Tumbuhan Rawa
Tumbuhan Tegakkan (pepohonan)
Tumbuhan merambat
Tumbuhan terapung
Gelam
Putat
Perepat
Beliang
Geti
Rengas
Bento
Paku-pakuan
Purun
Belidang
Putri malu
Bakung
Kecapu
Teratai
Eceng gondok
B.  Pembahasan
Kegiatan perikanan rawa di Desa Kayuara Batu biasanyan menggunakan alat tangkap yang masih tradisional seperti tajur, nilar, pukat, bubu, tangkul, pancing, serok, langgian, jala, bubu belut, tangguk dan senggirai. Masyarakat tidak menggunakan bahan kimia sama sekali dalam melakukan penangkapan ikan. Hal ini dikarenakan mereka harus menjaga keaslian dari rawa, mereka juga menggantungkan hidup mereka dari ikan-ikan yang ada di rawa sehingga apabila mereka menggunakan bahan-bahan kimia, maka ikan-ikan rawa akan habis. Ikan-ikan yang sering ditangkap oleh petani menggunakan alat tangkap adalah ikan sepat, sapil, seluang, gabus, belida, sepat siam, betok, lampam, betutu, baung, beringit, lais, tapah dan toman. Ikan yang tertangkap ini dimanfaatkan oleh petani baik sebagai lauk makan maupun diolah menjadi produk pangan lainnya seperti bekasam dan ikan asin.
Bekasam yang dibuat biasanya menggunakan ikan tambakan, ikan sepat mata abang dan ikan seluang. Menurut Nopianti (2012), kadar garam yang diberikan pada bekasam adalah 35% sehingga ketahanan produk bisa mencapai 1 tahun. Sedangkan jika menggunakan garam yang sedikit maka produk bekasam hanya dapat bertahan selama 1-2 bulan. Nopianti (2012) menambahkan untuk kadar garam pada ikan asin, biasanya digunakan ikan gabus dan ikan sepat dengan kadar garam 20% dan digaramkan secara kering.
Di perairan Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida memiliki kegiatan berupa lelang lebak lebung yang dilaksanakan lelang pada bulan Desember setiap tahunnya, tetapi banyak dari masyarakat tidak mengetahui objek mana saja yang dilelang. Hal ini juga membuat masyarakat agak bingung ketika bulan Januari, terdapat sekelompok orang dengan kapal bermotor yang akan memberi fasilitas yang lengkap terhadap lebak lebung yang telah dimenangkannya. Lelang lebak lebung biasanya dilakukan oleh petugas kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat sekitar.
Sosial ekonomi masyarakat di perairan rawa di Desa Kayuara Batu yaitu menjadi nelayan dan petani sawah. Biasanya, kegiatan menangkap ikan dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Juni dan kegiatan pertanian dilakukan pada bulan Juli hingga Oktober. Hal ini dikarenakan pada bulan Maret dan Juni merupakan pasang tertinggi dan sehingga biasanya ikan lebih mudah ditangkap dikarenakan curah hujan yang cocok untuk mengkap ikan, sedangkan pada bulan Juli hingga Oktober, merupakan surut terendah dan biasanya digunakan untuk menanam padi jenis padi gulma dikarenakan air yang ada di perairan Desa Kayuara Batu surut dan biasanya akan banyak terlihat daratan.
Rumah masyarakat di Desa Kayuara Batu merupakan rumah panggung dengan ketinggian ±5 m. Hal ini dikarenkan masyarakat mengantisipasi mengenai banjir besar sehingga rumah dibuat setinggi mungkin, jalan menuju rumah tetangga dengan menggunakan jembatan yang ketika bulan Maret hingga Juni akan terendam dan ketika bulan Juli hingga Oktober akan terlihat dan tidak terendam.
Jalur transportasi adalah aliran anak sungai Muara Belida yang merupakan aliran anak sungai dari sungai Musi dengan alat transportasi yang biasanya digunakan adalah perahu motor, bahan bakar yang biasa digunakan adalah jenis solar dan biasanya mereka membeli di Sungai Musi di Palembang. Sebagian besar penduduk desa ini memiliki mata pecaharian sebagai petani sawah, peternakan dan penangkap ikan (nelayan). Masyarakat tidak melakukan kegiatan budidaya, melainkan hanya mengharapkan hasil tangkapan dari alam. Dikarenakan ketika mereka melakukan budidaya, seringkali pada bulan-bulan tertentu hanyut dibawa arus.


 V. KESIMPULAN DAN SARAN
A.       Kesimpulan
Setelah melaksanakan wawancara dan analisis data yang telah didapatkan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Masyarakat tidak menggunakan bahan kimia sama sekali dalam melakukan penangkapan ikan.
2.      Ikan-ikan yang sering ditangkap oleh petani menggunakan alat tangkap adalah ikan sepat, sapil, seluang, gabus, belida, sepat siam, betok, lampam, betutu, baung, beringit, lais, tapah dan toman.
3.      Masyarakat tidak melakukan kegiatan budidaya, melainkan hanya mengharapkan hasil tangkapan dari alam.
4.      Lelang lebak lebung dilakukan pada bulan Desember dan biasanya leleang dilakukan oleh petugas kecamatan Muara Belida tanpa pemberiatahuan kepada masyarakat Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida.
5.      Alat tangkap yang digunakan warga di desa Kayuara Batu seperti tajur, nilar, pukat, bubu, tangkul, pancing, serok, langgian, jala, bubu belut, tangguk dan senggirai.
6.      Penduduk desa Kayuara Batu memiliki mata pecaharian sebagai petani sawah, peternakan dan penangkap ikan (nelayan).
7.      Ikan hasil tangkapan warga desa Kayuara Batu, sering diolah menjadi ikan asin dan bekasam yang dapat mereka jual kembali maupun untuk lauk makan sehari-hari. Ikan yang sering diolah adalah ikan sapil, ikan sepat mata abang dan ikan seluang.
8.      Sosial ekonomi masyarakat di perairan rawa di Desa Kayuara Batu yaitu menjadi nelayan dan petani sawah. Biasanya, kegiatan menangkap ikan dilakukan pada bulan Maret hingga bulan Juni dan kegiatan pertanian dilakukan pada bulan Juli hingga Oktober.
9.      Rumah masyarakat di Desa Kayuara Batu merupakan rumah panggung dengan ketinggian 5 m. Jalur transportasi adalah aliran anak sungai Muara Belida yang merupakan aliran anak sungai dari sungai Musi. Alat transportasi yang biasanya digunakan adalah perahu motor.

B.        Saran
Sebaiknya kegiatan lebak lebung di Desa Kayuara Batu dilakukan pensosialisasian terlebih dahulu agar mereka mendapat pengetahuan mengenai lelang lebak lebung dan juga agar dilakukan penyuluhan perikanan mengenai budidaya kepada masyarakat agar tidak selalu mengandalkan hasil dari alam.

Tidak ada komentar: