I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perairan
umum adalah bagian dari permukaan bumi yang secara permanen ataupun berkala
digenangi oleh air, baik air tawar, air payau dan air laut mulai dari garis
pasang surut terendah hingga kearah daratan dan merupakan badan air yang secara
alami atau buatan bukan milik perseorangan ataupun perusahaan tetapi miliki
masyarakat umum. Di Indonesia, perairan umum terdiri dari danau, waduk, sungai,
saluran irigasi dan laut yang memiliki total luas perairan umum sekitar 55 juta
Ha pada saat musim penghujan dan 18 juta Ha ketika musim kemarau. Perairan umum
daratan terluas di Indonesia adalah berada di Pulau Kalimantan (65%), Pulau
Sumatera (23%), Pualau Papua (7,8%), Pulau Sulawesi (3,5%) dan Pulau Jawa, Bali
dan Nusa Tenggara (0,7%) (Sarnita, 1986 dalam
Muslim, 2012).
Menurut
data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Selatan (2001) dalam Muslim 2012, luas perairan umum
Sumatera Selatan mencapai 2,5 juta Ha yang terdiri dari 43% rawa lebak, 31%
sungai besar serta anaknya, 11% danau dan 15% rawa pasang surut.
Rawa secara umum berarti semua lahan basah yang bervegatasi, baik berairan tawar, payau dan laut, yang berhutan atau tanaman rerumputan. Karakteristik rawa yaitu lahan basah, berair tawar, payau dan laut, terletak didataran rendah dan bervegetasi baik vegetasi tinggi (hutan) maupun vegetasi rendah (rerumputan).
Rawa secara umum berarti semua lahan basah yang bervegatasi, baik berairan tawar, payau dan laut, yang berhutan atau tanaman rerumputan. Karakteristik rawa yaitu lahan basah, berair tawar, payau dan laut, terletak didataran rendah dan bervegetasi baik vegetasi tinggi (hutan) maupun vegetasi rendah (rerumputan).
Pemanfaatan
rawa lebak oleh masyarakat setempat umumnya untuk pengembangan pertanian, perikanan,
dan peternakan. Berbagai jenis tanaman dari pangan, palawija, sayuran sampai
dengan tanaman perkebunan mempunyai peluang untuk dikembangkan di lahan rawa
lebak. Vegetasi yang
terdapat di perairan lebak lebung sumatera Selatan terbagi menjadi beberapa
golongan yaitu (1) tumbuhan tegakan, seperti gelam, putat, perepat, beriang,
geti dan rengas; (2) berakar didasar, muncul diatas permukaan seperti belidang,
paku-pakuan dan purun; (3) berakar didasar, mengapung di permukaan air, seperti
kumpai, teratai dan sabut lincah; (4) mengapung bebas dipermukaan air seperti
bakung, kecapu, pandan dan rasau; (5) tumbuhan darat suka diair seperti bento. Berbagai
jenis ikan yang disebut ikan hitam (Blackfish)
dan ikan putih (Whitefish) umum ditemukan di rawa lebak (Muslim, 2012).
Rawa
banyak berkaitan dengan perikanan karena kondisi rawa secara alami merupakan
potensi untuk pengembangan perikanan. Dari sudut ekologi rawa lebak memiliki
kekayaan berupa sumber daya hayati dan kesesuaian lingkungan bagi usaha-usaha perikanan.
Perkembangan usaha perikanan mulai mendapat perhatian besar namun disisi lain
dorongan terhadap eksploitasi sumber daya perikanan secara sembarangan dan tidak berkelanjutan perlu
dihindarkan. Tekanan ekologi terhadap sumber daya perikanan akibat pengembangan
teknologi dan pengelolaan yang tidak ramah lingkungan mendorong percepatan
penurunan populasi ikan bahkan pemusnahan beberapa jenis ikan (Sunarno, 2006).
B.
Tujuan
Dengan dilakukannya
praktikum ini diharapkan mahasiswa mengetahui kondisi potensi sumberdaya
perairan di Sumatera Selatan, sehingga pemanfaatanya tidak merusak kelestarian
sumberdaya hayati
perairan terutama jenis-jenis ikan bernilai tinggi. Praktikum ini bertujuan
untuk mengetahui :
1. Kondisi sumberdaya perairan di suaka
perikanan
2. Kondisi sumberdaya perikanan tangkap
di perairan rawa
3. Kondisi sumberdaya perikanan
budidaya di perairan rawa
4. Lelang lebak lebung di Sumatera
Selatan
5. Aktifitas penangkapan ikan serta
alat tangkap yang digunakan
6. Pengolahan dan pengawetan ikan rawa
7. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
sekitar perairan
A. Perikanan
Tangkap di Rawa
Melihat keadaan sumberdaya perikanan Indonesia
khususnya perikanan tangkap, telah mengalami over fishing pada beberapa
daerah dan adanya penurunan dari produksi perikanan tangkap dunia, maka dalam
pembangunan perikanan Indonesia kedepan lebih memfokuskan kepada peningkatan
produksi di perikanan budiaya. Hal ini terlihat pada trilogi
pembangunan perikanan Indonesia yaitu kendalikan perikanan tangkap, kembangkan perikanan
budidaya, tingkatkan
mutu dan nilai tambah. Selain itu juga dibutuhkan kebijakan terintegrasi dan
konvergen untuk membangun ocean economic dalam 3 pilar (a) national
ocean policy, (b) national ocean economic policy, dan (c) national
ocean governance. (KKP, 2010)
B. Budidaya Perikanan di Rawa
Sistem
budidaya perikanan di lahan rawa lebak sangat erat kaitannya dengan unsur
budaya dan etnik setempat. Dalam hal ini usaha perikanan dirawa lebak dapat
dipilah dalam bentuk perikanan tangkap, beje, keramba
Sistem
pertanian, peternakan dan perikanan yang dilakukan penduduk setempat ini sudah
sejak lama dan dilakukan secara turun temurun diwariskan. Tetapi belum banyak
disentuh teknologi modern yang menuntut efisiensi dan keuntungan. Pertanian,
perikanan maupun peternakan dirawa lebak umumnya dikelola secara mandirii
(rakyat) yang bersifat terbatas dengan hasil yang beragam dari musim ke musim
tergantung pada keramahan alam, terutama iklim, curah hujan dan genangan yang
erat terkait dengan kondisi lingkungan alamiahnya dengan tuntutan pasar (Noor,
2007).
Sistem
budidaya ikan yang biasa digunakan masyarakat yaitu dengan menggunakan sistem
keramba. Keramba adalah wadah yang digunakan untuk memelihara biota air,
terutam ikan air tawar dan udang galah, yang ditemapatkan dalam wadah air yang
dangkal sehingga sebagian keramba muncul di atas permukaan air. Metode
pemeliharaan biota budidaya dalam keramba ummunya diterapkan disungai dangkal
dan saluran air. Penempatan keramba di dasar perairan tertutup yang mencuat di
muka air cukup menguntungkan dalam pemeliharaan ikan (Kordi, 2008).
C.
Pengolahan
dan Pengawetan Ikan Rawa
Pengawetan merupakan
usaha manusia untuk mempertinggi daya tahan dan daya simpan ikan dengan tujuan
agar kualitas ikan dapat dipertahankan tetap dalam kondisi baik. Penanganan
ikan segar merupakan salah satu bagian penting dari mata rantai industri
perikanan karena dapat mempengaruhi mutu. Baik buruknya penanganan ikan segar
akan mempengaruhi mutu ikan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan mentah
untuk proses pengolahan lebih lanjut (Ilyas.S, et.al,
1992 dalam
Sunarno, 2006).
Dengan kandungan air cukup
tinggi tubuh ikan merupakan media yang cocok untuk kehidupan bakteri pembusuk
atau mikroorganisme yang lain, sehingga ikan sangat cepat mengalami proses
pembusukan. Kondisi ini sangat merugikan karena dengan kondisi demikian banyak
ikan tidak dapat dimanfaatkan dan terpaksa harus dibuang, terutama pada saat
produksi melimpah. Oleh karena itu, untuk mencegah proses pembusukan perlu
dikembangkan berbagai cara pengawetan dan pengolahan yang cepat dan cermat agar
sebagian ikan yang diproduksi dapat dimanfaatkan (Sunarno, 2006).
Adapun
contoh pengholahan dan pengawetan ikan yang umum dilakukan oleh masyarakat
yaitu :
1. Pemindangan
Pindang adalah sejenis hasil olahan ikan yang
diawetkan dengan perebusan dan penggaraman. Pindang tradisional dibuat dalam wadah
tanah dan dijual bersama wadahnya, yang lebih kecil praktis dibuat dalam
keranjang atau dalam kaleng minyak. Ketahanan
ikan pindang disebabkan oleh perebusan dan penggaraman dan bisa bertahan selama
3 bulan. Pemindangan adalah pengalengan yang dilakukan secara tradisional dan
sederhana. Ada 2 cara pemindangan yang akan diuraikan yaitu pemindangan dengan wadah
tanah dan pemindangan dengan keranjang bambu/rotan.
Cara mengolahnya pun cukup mudah. Mula-mula siapkan
wadah, bagian bawah wadah diberi bilah bambu atau daun pisang kering untuk
melindungi ikan diatasnya supaya tidak hangus terkena api. Ikan yang telah
dibersihkan disusun berlapis-lapis dalam wadah sambil ditaburi garam sampai
wadah tersebut penuh dengan pemakaian garam kira-kira 2-15% dari berat ikan dan
banyak ikan dalam satu wadah tergantung besar wadah dan besar ikannya kemudian
diberi air bersih sampai ikan terendam semuanya, ditutup dengan saringan bambu dan diberi pemberat supaya ikan tidak
terapung dan diamkan selama 2-3 jam untuk memperkuat jaringan dagingnya.
Dapat ditambahkan kunyit pada pindangan dapat
dilakukan supaya pindang itu berwarna kuning dan menghilangkan rasa anyir.
2.
Pengasapan
Pengasapan adalah
salah satu cara memasak,
memberi aroma, atau proses pengawetan makanan
terutama daging
ikan.
Makanan diasapi dengan panas dan asap yang
dihasilkan dari pembakaran kayu,
serta tidak diletakkan dekat dengan api agar
tidak terpanggang atau terbakar. Sebelum diasapi, daging biasanya direndam di
dalam air garam.
Beberapa jenis ikan tidak perlu direndam lebih dulu di dalam air garam. Setelah
dilap dan dikeringkan, makanan digantung di tempat pengasapan yang biasanya
memiliki cerobong asap.
Sebagai kayu asap biasanya dipakai serpihan kayu yang bila dibakar memiliki
aroma harum. Ke dalam kayu bakar bisa ditambahkan rempah-rempah seperti cengkeh dan akar manis.
Sewaktu pengasapan
berlangsung, makanan harus dijaga agar seluruh bagian makanan terkena asap.
Waktu pengasapan bergantung ukuran potongan daging dan jenis ikan. Api perlu
dijaga agar tidak boleh terlalu besar. Bila suhu tempat pengasapan terlalu
panas, asap tidak dapat masuk ke dalam makanan. Sewaktu pengasapan dimulai, api
yang dipakai tidak boleh terlalu besar.
3.
Kerupuk Udang
Kerupuk udang atau ikan adalah produk makanan kering
yang berasal dari udang atau ikan yang dicampur dengan tepung tapioka atau
tepung terigu. Cara membuatnya pun cukup sederhana ikan yang telah dibersihkan
dan digiling dicampurkan dengan bumbu bawang putih dan garam yang telah
dihaluskan, aduk-aduk dan remas-remas
sampai adonan bercampur menjadi satu kemudian setelah tercampur rata, tambahkan
tepung terigu, tepung tapioka, dan air, aduk-aduk adonan sampai kental,
tuangkan adonan ke dalam loyang, kemudian kukus sampai matang lalu dinginkan
dan yang terakhir iris-iris adonan dengan tebal ± 0,1 ~ 0,2 mm, kemudian jemur
sampai kering.
D.
Sosial
Ekonomi Perairan Rawa
Manusia sebagai makhluk
hidup dalam melangsungkan kehidupannya tidak lepas dari lingkungan hidup
sekitarnya. Lingkungan hidup manusia tersebut menyediakan berbagai sumber daya
yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lingkungan hidup setiap
wilayah dipermukaan bumi ini memiliki ciri khas tersendiri. Hal tersebut
dipengaruhi oleh faktor fisik yang mendukungnya, seperti iklim, geologi,
hidrologi, morfologi, tanah dan vegetasi (Sumaatmadja, 1989 dalam
Sunarno, 2006).
Tujuan
utama pengelolaan perikanan adalah meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui
pembinaan dan melindungi sumberdaya untuk kebutuhan generasi mendatang,
Perikanan perairan umum sebagai suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang
bersifat terbuka tidak dilakukan oleh orang sebagai “pemilik” tapi dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat baik sebagai produsen mapun sebagai konsumen.
Karena itu semua orang yang mendapat manfaat dari perikanan perairan umum hendaknya
ikut menjaga sumberdaya yang berkelanjutan akan mempengaruhi keberlanjutan
usaha mereka. Pemerintah pusat seringkali gagal untuk mengembangkan suatu pola
pengelolaan yang dapat dijadikan komplemen bagi pengelolaan secara tradisional
di suatu daerah. Untuk itu perlu dikembangkan pola pengelolaan bersama yang
dapat diartikan sebagai urunan tanggung jawab atau otoritas antara pemerintah
dan masyarakat untuk mengelola sumberdaya perikanan. Dengan demikian akan
mengurangi konflik sosial dan meningkatkan keakraban sosial dan masyarakat.
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Perikanan
Rawa ini dilaksanakan pada 28
April 2013, lokasi yang dikunjungi adalah Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten
Muara Enim, Provinsi Sumatera
Selatan.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan
yang digunakan yaitu berupa alat tulis dan buku penuntun praktikum. Karena
praktikum berupa kunjungan dan wawancara pada masyarakat.
C. Cara Kerja
Metode yang digunakan
dalam praktikum ini adalah metode survey. Peserta praktikum (praktikan)
mengunjungi lokasi praktikum, melakukan observasi, pengamatan, wawancara,
dokumentasi alat-alat penangkapan ikan, aktifitas budidaya, pengolahan ikan,
dan segala aspek materi praktikum. Sedangkan materi yang diamati dalam
praktikum ini adalah :
1. Kondisi
sumberdaya perairan lokasi praktikum
2. Kondisi
penangkapan ikan di perairan umum (sungai, rawa)
3. Kondisi
budidaya perikanan di perairan rawa
4. Lelang
lebak lebung di Sumatera Selatan
5. Pengolahan
dan pengawetan ikan rawa
6. Sosial
Ekonomi masyarakat sekitar rawa
A.
Hasil
Berdasarkan observasi
yang telah dilakukan kepada beberapa penduduk di Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim di dapatkan hasil
sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil praktikum
Kategori
|
Hasil Observasi
|
|
A.
Sumberdaya Perikanan Tangkap
1.Penangkapan
ikan di perairan (sungai dan rawa)
a.
Alat tangkap yang digunakan
b.
Penangkapan bahan-bahan kimia
2.
Jenis usaha lain di sekitar perairan
3.
Jenis alat tangkap yang digunakan
4.Cara
penangkapan ikan yang merugikan
B.
Sumberdaya Perikanan Budidaya
5.
Jenis usaha budidaya
Kalau ada dengan sistem apa
6.
Jenis ikan yang dipelihara
7.
Benih yang dibeli dari balai
8.
Benih yang dibeli dari balai
9.
Bagaimana kualitas benih
10.
Berapa lama pemeliharaan ikan? Jelaskan !
11.
Pertumbuhan ikan yang dipelihara
12.
Pakan yang digunakan
13.
Pakan buatan yang digunakan
14.
Harga pakan/kg (merk apa)
15.
Manajemen usaha
16.
Pemasaran hasil
17.
Harga jual ikan/kg
18.
Kendala dalam pemelihara
|
Nilar, tajur dan jala.
Tidak
ada
Sawah
Pancing, jala dan bubu
Tidak
ada
Tidak ada
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Mas Rp. 23.000
Patin 15.000
Nila Rp. 20.000
Bawal Rp. 35.000
Lain-lain (Palau) Rp. 10.000
-
|
|
C.
Lelang Lebak Lebung
19.
Lokasi lelang
a. Kelurahan
b. Kecamatan
c. Kebupaten
20.
Berdasarkan Peraturan Daerah (PerDa)
(Lama)
(Baru)
21.
Tanggal lelang setiap tahun
22.
Sebutkan susunan panitia lelang
23.
Syarat-syarat panitia dan peserta lelang
24.
Peraturan pelaksanaan lelang
D.
Pengolahan dan pengawetan hasil perikanan
25.
Ikan yang biasa diolah
26.
Jenis pengolahan yang biasa dilakukan
27.
Lama ketahanan produk hasil olahan
28.
Alat yang digunakan dalam pengolahan ikan
29.
Cara pemasaran hasil pengolahan ikan
30.
Jenis pengawetan yang biasa dilakukan
31.
Lama waktu untuk pengawetan
32.
Alat yang dipakai untuk pengawetan
33.
Pemasaran hasil pengawetan ikan
E.
Sosial Ekonomi Masyarakat Perairan Rawa
34.
Nama kepala keluarga
35.
Jumlah anggota keluarga
36.
Jumlah tanggungan keluarga
37.
Pendapatan rata-rata per bulan
|
Kayuara Batu
Muara Belida
Muara Enim
No.
31 Tahun 2004
No.
14 Tahun 2005
Peraturan
Kelurahan No. 09 Tahun 2010 (Zona Penyangga)
Peraturan
Kelurahan No. 09 Tahun 2010 (Zona Inti)
31 Desember, 1 tahun, 1 kali.
Bupati,
Sekretaris Daerah, Kepala Bagian Pemerintahan Desa, Kepala Dinas Perikanan
Kabupaten, Kepala dinas Pendapatan Daerah, Camat, Sekretaris Camat, Staff
Kecamatan, Kepala Desa dan unsur lain.
Panitia
: Melaksanakan lelang sampai selesai, Membuat berita acara,
Peserta
: Berdomosili dalam wilayah tersebut, Menunjukkan KTP dan surat rekomendasi,
Berada di tempat lelang tersebut hingga acara selesai.
Peserta
lelang yang menawar dengan harga tertinggi adalah pemenangnya dan wajib
membayar kontan, Lelang lebak lebung dilaksanakan pada hari itu juga hingga
selesai.
Tambakan, sepat mata merah
dan ikan seluang
Ikan
asin dan bekasam
Bekasam : nasi yang digunakan
5-7 genggam dan bertahan 1 bulan
Ikan
asin bisa sampai 1 tahun kalau banyak
garam 35%, jika sedikit garam <10% maka hanya bertahan 1 – 2 bulan.
Gelok, toples, langgaian dan
tong
Dimakan
sendiri, dijual ke sesama penduduk sekitar dan dijual ke pasar di Palembang.
Penggaraman dan fermentasi.
7 - 10 hari
-
Dimakan
sendiri, dijual ke sesama penduduk sekitar dan dijual ke pasar di Palembang.
Bapak Nusa
7 orang
5 orang
Rp. 500.000,-
|
Tabel 2. Objek Lelang
No
|
Nama
objek lelang
(sungai, danau, lebak lebung, dll)
|
Luas
objek lelang
|
Keterangan
(lokasi objek lelang, Desa, Kecamatan)
|
1.
|
Sungai
|
1 Ha
|
Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim, Provinsi
Sumatera Selatan.
|
Tabel 3. Hasil Lelang
No.
|
Objek Lelang
|
Harga Lelang (Rp) Satuan Ribu
|
||||
Tahun
|
||||||
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
||
1.
|
Sungai
|
11 Juta
|
14 Juta
|
17 Juta
|
18 Juta
|
21 Juta
|
Tabel 4. Tumbuhan Rawa
Tumbuhan Tegakkan (pepohonan)
|
Tumbuhan merambat
|
Tumbuhan terapung
|
Gelam
Putat
Perepat
Beliang
Geti
Rengas
Bento
|
Paku-pakuan
Purun
Belidang
Putri malu
|
Bakung
Kecapu
Teratai
Eceng gondok
|
B. Pembahasan
Kegiatan
perikanan rawa di Desa Kayuara Batu biasanyan menggunakan alat
tangkap yang masih tradisional seperti tajur, nilar, pukat, bubu, tangkul, pancing, serok, langgian, jala, bubu belut, tangguk dan
senggirai. Masyarakat
tidak
menggunakan bahan kimia sama sekali dalam melakukan penangkapan ikan. Hal ini dikarenakan mereka harus menjaga keaslian dari
rawa, mereka juga menggantungkan hidup mereka dari ikan-ikan yang ada di rawa
sehingga apabila mereka menggunakan bahan-bahan kimia, maka ikan-ikan rawa akan
habis. Ikan-ikan
yang sering ditangkap oleh petani menggunakan alat tangkap adalah ikan sepat, sapil, seluang, gabus, belida, sepat siam, betok, lampam, betutu, baung, beringit, lais, tapah dan toman. Ikan yang tertangkap ini
dimanfaatkan oleh petani baik sebagai lauk makan maupun diolah menjadi produk
pangan lainnya
seperti bekasam dan ikan
asin.
Bekasam
yang dibuat biasanya menggunakan ikan tambakan, ikan sepat mata abang dan ikan
seluang. Menurut Nopianti (2012), kadar garam yang diberikan pada bekasam
adalah 35% sehingga ketahanan produk bisa mencapai 1 tahun. Sedangkan jika
menggunakan garam yang sedikit maka produk bekasam hanya dapat bertahan selama
1-2 bulan. Nopianti (2012) menambahkan untuk kadar garam pada ikan asin,
biasanya digunakan ikan gabus dan ikan sepat dengan kadar garam 20% dan
digaramkan secara kering.
Di perairan Desa Kayuara Batu, Kecamatan Muara
Belida memiliki kegiatan berupa lelang lebak lebung yang dilaksanakan lelang pada bulan Desember setiap tahunnya,
tetapi banyak dari masyarakat tidak mengetahui objek mana saja yang dilelang.
Hal ini juga membuat masyarakat agak bingung ketika bulan Januari, terdapat
sekelompok orang dengan kapal bermotor yang akan memberi fasilitas yang lengkap
terhadap lebak lebung yang telah dimenangkannya. Lelang lebak lebung biasanya
dilakukan oleh petugas kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim tanpa
adanya sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat sekitar.
Sosial
ekonomi masyarakat di perairan rawa di Desa Kayuara Batu yaitu menjadi nelayan
dan petani sawah. Biasanya, kegiatan menangkap ikan dilakukan pada bulan
Maret hingga bulan Juni dan kegiatan pertanian dilakukan pada bulan Juli hingga
Oktober. Hal ini dikarenakan pada bulan Maret dan Juni merupakan pasang tertinggi
dan sehingga biasanya ikan lebih mudah ditangkap dikarenakan curah hujan yang
cocok untuk mengkap ikan, sedangkan pada bulan Juli hingga Oktober, merupakan
surut terendah dan biasanya digunakan untuk menanam padi jenis padi gulma
dikarenakan air yang ada di perairan Desa Kayuara Batu surut dan biasanya akan
banyak terlihat daratan.
Rumah
masyarakat di Desa Kayuara Batu merupakan rumah panggung dengan ketinggian ±5
m. Hal ini dikarenkan masyarakat mengantisipasi mengenai banjir besar sehingga
rumah dibuat setinggi mungkin, jalan menuju rumah tetangga dengan menggunakan
jembatan yang ketika bulan Maret hingga Juni akan terendam dan ketika bulan
Juli hingga Oktober akan terlihat dan tidak terendam.
Jalur
transportasi adalah aliran anak sungai Muara Belida yang merupakan aliran anak
sungai dari sungai Musi dengan alat transportasi yang biasanya digunakan adalah
perahu motor, bahan bakar yang biasa digunakan adalah jenis solar dan biasanya
mereka membeli di Sungai Musi di Palembang. Sebagian besar
penduduk desa ini memiliki mata pecaharian sebagai petani sawah, peternakan dan
penangkap ikan (nelayan).
Masyarakat tidak melakukan kegiatan budidaya, melainkan
hanya mengharapkan hasil tangkapan dari alam. Dikarenakan ketika mereka
melakukan budidaya, seringkali pada bulan-bulan tertentu hanyut dibawa arus.
A.
Kesimpulan
Setelah
melaksanakan wawancara dan analisis data
yang telah didapatkan, dapat disimpulkan bahwa :
1.
Masyarakat tidak menggunakan bahan kimia sama sekali dalam
melakukan penangkapan ikan.
2.
Ikan-ikan yang sering ditangkap oleh
petani menggunakan alat tangkap adalah ikan sepat, sapil, seluang, gabus, belida, sepat siam, betok, lampam, betutu, baung, beringit, lais, tapah dan toman.
3.
Masyarakat
tidak melakukan kegiatan budidaya, melainkan hanya mengharapkan hasil tangkapan
dari alam.
4.
Lelang
lebak lebung dilakukan pada bulan Desember dan biasanya leleang dilakukan oleh
petugas kecamatan Muara Belida tanpa pemberiatahuan kepada masyarakat Desa
Kayuara Batu, Kecamatan Muara Belida.
5.
Alat tangkap yang digunakan warga di desa Kayuara Batu seperti tajur, nilar, pukat, bubu, tangkul, pancing, serok, langgian, jala, bubu belut, tangguk dan
senggirai.
6.
Penduduk
desa Kayuara Batu
memiliki mata pecaharian sebagai petani sawah, peternakan dan penangkap ikan (nelayan).
7.
Ikan
hasil tangkapan warga desa Kayuara
Batu, sering diolah menjadi ikan asin dan bekasam
yang dapat mereka jual kembali maupun untuk lauk makan sehari-hari. Ikan yang sering diolah adalah ikan sapil, ikan sepat mata
abang dan ikan seluang.
8.
Sosial
ekonomi masyarakat di perairan rawa di Desa Kayuara Batu yaitu menjadi nelayan
dan petani sawah. Biasanya, kegiatan menangkap ikan dilakukan pada bulan
Maret hingga bulan Juni dan kegiatan pertanian dilakukan pada bulan Juli hingga
Oktober.
9.
Rumah
masyarakat di Desa Kayuara Batu merupakan rumah panggung dengan ketinggian 5 m.
Jalur transportasi adalah aliran anak sungai Muara Belida yang merupakan aliran
anak sungai dari sungai Musi. Alat transportasi yang biasanya digunakan adalah
perahu motor.
B.
Saran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar